PETIR YANG BUKAN KEJUTAN BAGIKU


Sinar matahari pagi menyapa lembut wajahku. Mengiringi pelan langkahku menuju tempat itu, ya ke tempat itu. Tempat dimana kita selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama.

Ku buka pintu besar itu, mataku tertuju pada ruangan di seberang sana di mana selalu ada makhluk dingin itu. Makhluk dingin  bak gunung es dengan senyum dinginnya  yang indah yang sudah memporakporandakan hatiku. Aku yakin dia ada di sana melihatku saat ini. Menatap di sudut ruangan dari balik kaca jendela yang hitam.

Setelah ku taruh tasku dan jaket di meja kerjaku, kuambil berkas yang kemarin di cari bosku untuk ditandatangani , lalu kuayunkan langkahku. Kuberanikan diri menuju ruangan itu . Kutarik nafasku dalam dalam ada yang berkecamuk di hati. 

Perlahan kuketuk pintunya, ada suara jawaban dari dalam.
"Masuklah tidak dikunci", suara itu menyahut. "Maaf pak, ini berkas yang bapak minta kemarin" , kusodorkan berkas sambil kutatap  wajah itu.
Dalam dan dingin entah apa arti tatapan itu, aku tak tahu. Entah senang , sedih atau bahkan keduanya.

"Kamu nggak ingin peluk aku untuk yang terakhir ?", kataku lirih.

Sebuah pelukan hangat sungguh hangat dan tak pernah ada sebelumnya. Embun hangat tak terasa meleleh di pipiku. Tak sanggup rasanya , tapi kukuatkan   hatiku karena ini mungkin hari terakhir aku bisa menikmati senyum  dan tatapan tajam yang selalu mencuri malamku itu.

"Jangan menangis, aku nggak mau lihat kamu menangis. Biarkan aku pergi yaa, aku percaya Tuhan akan jaga kamu dan aku juga. Ini yang terbaik untuk semua, jaga keluargamu baik baik", bisiknya lirih.

Bagai petir yang bukan kejutan lagi bagiku, karena aku tahu ini akan terjadi. Dia pasti pergi, dan kita akan berpisah karena memang tak akan pernah bisa bersama. Kamu pergi menggapai impianmu dan meninggalkan aku kembali ke cerita pahitku dan hatiku yang mungkin akan tetap beku.

Comments

Popular posts from this blog

CERITA MIA ( Pacarku, Pilihlah Sahabatku )

CERITA MIA ( Jangan Sentuh Aku )

NAMANYA MIA