Posts

Showing posts from October, 2019

CERITA MIA ( Jangan Sentuh Aku )

Image
Kumpulan kisah ini bercerita tentang seorang wanita tangguh yang perjalanan hidupnya penuh dengan liku liku dan onak duri. Bercerita tentang segala cita citanya, mimpinya, perjuangannya dalam menggapai cita cita dan juga cerita tentang cintanya. Wanita itu bernama Mia, Silviana Primalia Damianti. Wanita cantik tapi kisah hidupnya kadang tidak semulus dan secantik wajahnya. Semoga kisah ini dapat menginspirasi pembacanya . Sebelumnya mohon maaf bila ada kesamaan tempat atau nama, karena ini hanya cerita semata yang diambil penulis dari inspirasi pribadi dengan sedikit merubah demi keindahan cerita saja. Terimakasih dan selamat membaca. JANGAN SENTUH AKU Siang itu seperti biasa Mia menunggu mikrolet di halte bis dekat sekolahnya. Dengan seragam biru putih yang mulai kusam setelah 2 tahun dipakainya.  Tak lama berselang sebuah benda berwarna biru muda meluncur mendekatinya. Mia segera naik dan mengambil tempat duduk dekat jendela agak jauh dari pintu. Penumpan...

NAMANYA MIA

Image
Tuutt..tuutttt..ttuuttt... Peluit sudah memanggil tanda kereta akan segera berangkat. Kereta sore jurusan Jakarta yang ditumpangi Juan. "Mas, maaf ini bangku no 3b ya?". Suara seorang pria membuyarkan lamunan Juan. "O ya mas , ini tempat duduk mas ya, maaf tadi masih kosong jadi iseng saya duduk di sini. Bangku saya ini mas di depan mas, silahkan saya tak kembali ke tempat saya". "Mau kemana mas?". "Mau ke Jakarta mas, saya turun di Gambir. Mas sendiri?". "Iya mas. Saya juga, tapi nanti turun di Stasiun Pasar Senen mas".  Juan memandang ke arah pria di depannya yang kelihatan senyum sendiri saat memandang selembar foto di tangannya. "Foto pacarnya ya mas? Serius sekali hehe". "Bukan mas dia istri saya, saya sudah beberapa bulan tidak ketemu karena saya ada tugas di luar kota". Pria itu menjawab sambil tersenyum. "Waah pasti kangen banget ya mas hehe". Juan lalu membu...

TEMAN PAGI

Image
Saya berangkat dulu ya bu.. Mendarat ciuman pamit di pipi kiri dan kananku, kulihat senyum mungil itu, putri kecilku yang cantik, Yohana namanya. Yaa..Jangan lupa bekalnya na! Hati hati di jalan nggak usah ngebut ngebut jalanan rame lo jam segini! Ya buuuu.... Hmmmm... akhirnya aku bisa menarik nafas lega satu rutinitasku sudah selesai tinggal yang masih menunggu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 , rumah sudah sepi. Biasa jam segini semua sudah berangkat ke rutinitas masing masing, suami berangkat kerja dan anak anak sudah pergi ke sekolah dan aku.. sendiri lagi . Sendiri tapi berusaha tidak kesepian. Kusruput kopiku sambil kubalik halaman demi halaman buku yang kubaca. MELEPAS BELENGGU judulnya, karya seorang penulis wanita dari Amerika Serikat. Lumayan juga untuk bahan motivasi, setidaknya temanku ngopi pagi ini. Pahit..yaa.. karena memang aku mulai terbiasa minum kopi tanpa gula. Pahit tapi nikmat. Entah darimana bisa nikmat. Tapi setidaknya aku biasa...

LANGIT MALAM 30 OKTOBER 1998

Image
Lampu terminal menyala temaram di sepanjang jalan itu. Diselingi lampu mobil dan kendaraan lain yang lewat lalu lalang di malam itu, 30 Oktober 1998. Malam terakhir Mia bertemu dengan orang ini, Juan, pria yang pernah mengisi harinya. "Dek, tak bisakah kamu merubah keputusanmu. Kita rundingkan lagi bersama", pria itu kembali membujuk Mia. Tapi Mia sudah kekeh dengan keputusannya. Mereka harus putus. Perbedaan keyakinan yang tak pernah bisa menemukan jalan untuk bertemu, hanya jalan buntu bagi mereka. Mia masih ingat saat itu bagaimana dulu dia pernah bertanya pada Juan soal hubungan mereka. "Saya nggak berani dek, siapa yang berani meninggalkan DIA akan sengsara", katanya. "Aku juga nggak bisa ikut kamu, kayakinan adalah masalah hati, tidak bisa ikut ikut gitu, itu hubungan antara kita dengan Tuhan nggak bisa dipaksa", sahut Mia. Dan akhirnya karena tak ada titik temu , mereka putuskan tuk berpisah. Berpisah demi keyakinan masing masing. Juan ...

PETIR YANG BUKAN KEJUTAN BAGIKU

Image
Sinar matahari pagi menyapa lembut wajahku. Mengiringi pelan langkahku menuju tempat itu, ya ke tempat itu. Tempat dimana kita selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Ku buka pintu besar itu, mataku tertuju pada ruangan di seberang sana di mana selalu ada makhluk dingin itu. Makhluk dingin  bak gunung es dengan senyum dinginnya  yang indah yang sudah memporakporandakan hatiku. Aku yakin dia ada di sana melihatku saat ini. Menatap di sudut ruangan dari balik kaca jendela yang hitam. Setelah ku taruh tasku dan jaket di meja kerjaku, kuambil berkas yang kemarin di cari bosku untuk ditandatangani , lalu kuayunkan langkahku. Kuberanikan diri menuju ruangan itu . Kutarik nafasku dalam dalam ada yang berkecamuk di hati.  Perlahan kuketuk pintunya, ada suara jawaban dari dalam. "Masuklah tidak dikunci", suara itu menyahut. "Maaf pak, ini berkas yang bapak minta kemarin" , kusodorkan berkas sambil kutatap  wajah itu. Dalam dan dingin entah apa art...